Saat mata hatinya berbicara, mungkin seorang perempuan akan menutup setiap skenario yang ada dalam hidupnya dan mencoba berjalan tegar...menjemput apa yang diyakininya...
Perempuan mendengar ungkapan dari seorang pria...
Mungkin ungkapan itu tidak utuh nyata, sekali pun nyata, mungkin hanya sekejab.
Seorang pria datang menyuguhkan hatinya...lalu pergi...
Pada waktu yang berbeda, di kesempatan yang berbeda, seorang pria datang lagi...lalu pergi kembali...
Bukan pria lain....masih pria yang sama...membingungkan...
dan perempuan masih menimbang hatinya...
Mau tidak mau, suka atau tidak suka,
Itu memang perempuan...
Saat mata hatinya berbicara, seolah segumpal keyakinan bisa menjadi sebesar jagat raya dan seluruh mekanisme dalam nadi dan nafasnya bergerak dengan cepat...
Akal bukan berarti hilang...perempuan hanya benar-benar menghargai apa yang utuh dirasakannya...walau terkadang lupa akan hati yang lain...
Apakah gerangan yang perempuan lakukan...?
Mengutarakan kebingungannya...
Tentu...
Keadaan yang pernah dirasa tidak menyenangkan senantiasa akan terngiang...
Beberapa tahun yang lalu, perempuan menangis...
5 tahun kemudian, perempuan masih dapat menangisi hal yang sama...
Bukan karena tidak memaafkan...perempuan hanya benar-benar menghargai apa yang utuh dirasakannya...
Karena hati yang ia rasa indah, perempuan mampu bertahan...
Sampai saatnya tiba...
Pria yang di sana tidak lagi bingung...
Entah dengan kekesalannya karena tak mungkin juga dapat bersatu , entah dengan kekikukkannya karena telah menemukan perempuan lain, entah dengan kebesaran hatinya, entah dengan kesadaran karena telah menyakiti manusia yang lain,
Dia benar-benar hilang...
Apakah gerangan yang perempuan lakukan...?
menunjukkan amarahnya...?kekecewaannya...?atau kemurkaannya sekalipun?...
Bukan tidak mungkin...
Dia lantas akan pergi ke sudut tersepi yang ia temui....dan ia pun sujud berdoa... berharap semua yang terjadi, apa pun itu, adalah hal yang baik bagi dirinya mau pun sang pria atau manusia lain...
Sang pria pun menjalani sikap yang terbaik bagi istri yang didampinginya kini...
Dan perempuan... walau menangis, ia pun tersenyum untuknya...
Hari itu... Seorang perempuan yang terkulai lemas lantaran mengecap insting akan kenyataan pahit yang tersembunyi, akan terabaikannya janji seorang pria... menyatakan dengan jelas bahwa dirinya tidak mampu lagi...
Namun bertahun-tahun pula ia bertahan... demi buah hatinya...
Apakah gerangan yang perempuan lakukan...?
Terisak...menangis...atau bahkan membungkuk mual?
Bukan tidak mungkin...
Sampai saatnya tiba...
Sang pria berlutut mencium kakinya dan mengucap maaf...
Tidak pernah menjadi sia-sia, saat ia sujud berdoa... berharap semua yang terjadi, apa pun itu, adalah hal yang baik bagi dirinya, sang pria, dan buah hatinya...
Kini mereka hidup dengan senandung...semua menjadi lebih terang dari biasanya...
Sungguh, dalamnya hati seorang perempuan tidak akan pernah bisa terukur...
Karena hati adalah indra dan nafasnya...Ia bisa terluka, dan mampu bertahan...sekaligus mengubah dunia dalam kacamata hidup yang diyakininya...
Maka kita, perempuan, bertahanlah...
Dan saya percaya setiap perempuan mampu bertahan...
Perempuan
Cerita > Puisi Saya 7 comment(s)
Hitam Putih Ku
Aku ini milik semesta
Kakiku berjalan di atasnya
Airku mengalir di setiap sela yang ada
Udaraku bertransformasi untukku
Aku ini makhluk bebas
Akalku menjadi pemimpin
Hatiku menjadi penimbang
Aku menjadi penakluk diriku
Aku ini pemilik cinta
cinta kubebaskan untuk datang
cinta kubebaskan untuk pergi
Aku adalah bunga mimpi
Aku bersemi pada saatnya
Aku gugur bukan karena hawa
Aku menjadi teman malam
Bersahabat dengan pagi
Menjalin rasa dengan raga dan emosi
Aku tidak mengutuk perbedaan
Tidak juga bersandar pada keseragaman
Aku menjadi himpunan tersendiri
Itu keyakinananku...
Dan aku tetap milik-Nya
Cerita > Puisi Saya, Religi 0 comment(s)
Santi..Santi
Pernah ku merasa sangat bangga, pernah ku merasa sangat kecewa, pernah ku merasa sangat memiliki, pernah ku merasa begitu utuh…
Kalau semua harus beranjak, entah dengan merangkak, berjalan, berlari bahkan terbang, atau ada kalanya berbalik arah ,
Cinta yang ini pasti tetap tentram tinggal di benakku…
Seperti butir- butir cahaya sesungguhnya,
Tajam binar matamu mendatangiku,
Menyilaukan dan membuka paksa mata
Mencairkan kebekuan batin
Dan mengeringkan air mata yang pernah mengisi kamar hatiku…
Rinduku seakan tidak pernah luruh untukmu
Setiap lipatan memoriku utuh dipenuhi cerita, mimpi, cinta, sakit, detik, airmata, geram, maaf dan peluh bersama…
Cerita > Puisi Saya, Untuk Teman 4 comment(s)
Perkenalkan,
Di sebelahku ini adalah diva tersohor dan penulis ternama, dua-duanya namanya Sinar.Mereka menjadi cahaya bagi sebuah hidup, hidupku. Benar- benar cahaya.
Dokter terhebat sekalipun ada. Tugasnya menyembuhkan dan menata luka batin. Dia dokter pribadiku. Panggil dia Dr. Bidadari.
Yang dua ini pemimpi sederhana, namanya Kilau dan Jie Jie . Mereka tidak pernah berhenti mencari dirinya, dan selalu menjadi kesayanganku.
Gadis montok dengan senyum khas itu namanya Monalisa, yang di sebelahnya biasa dipanggil Miss. J. Mereka ballerina kawakan.
Salah satu dari yang barusan pergi itu calon ustadz. Emm..ck ..Ahh aku lupa namanya. Yang jelas hobinya mengaji. Aku dan Sinar si penulis sempat mengecap sentuhan rohaninya. Dan umm..Maaf, dua yang lainnya aku lupa sama sekali…
Lantas di pinggir situ adalah sekelompok calon pembuat film terbesar. Yang duduk adalah Mr. Sanjay dan yang satunya lagi Toro, biasa disebut Terang. Mereka teman baik. dan aku selalu ingin menjadi teman baik mereka..Oh ya, yang lagi berdiri sendiri itu namanya Agustus, dan dia kini memang sudah merdeka. Dia dulu kekasih Dr. Bidadari.
Kalau eksekutif muda yang necis itu namanya Sungai, tapi dia senang dengan sebutan asdos. Iya, cara bicaranya memang seperti asisten dosen. Dan aku benar-benar belajar banyak hal darinya.
Nah yang duduk di seberangku itu pemain bass terbaik. Pagi namanya. Seperti pagi sesungguhnya, tanpa disadari kehadirannya selalu diharapkan, serta mengingatkanku bahwa aku masih bernafas…dan aku patut bersyukur untuk itu.
Aku sendiri adalah pemburu kesehatan batin dan ilmu, penikmat alam, literatur, nada dan juga tari …hobiku menonton film dan bermimpi…mimpi bertemu Tuhan.
Panggil aku Santa… Aku di sini karna mereka…
Cerita > Puisi Saya, Untuk Teman 0 comment(s)
Dan bila selingkuh itu indah…
Seikat mawar tergeletak layu
24 batangnya mulai mengering
Warnanya memudar di atas embun ilalang,
Menyatu dengan waktu, menunggu…
Kembali bersemi elok di atas bumi
Dua hari yang lalu seorang gadis periang mengitari taman bunga
Langkah kakinya terarak teduh hati
Dipetiknya bunga liar murni berkembang tak terawat
Terlepas dari genggamannya
Seikat mawar cantik…
------------------------------------
Di balik gaun hitam elegan
Perempuan matang itu menatapnya
Pria pengecut itu kini duduk di pelaminan
Wanita di sampingnya tetap dia…
Dia yang tidak pernah tahu
Kisah yang bukan hanya sesaat
Kisahnya dengan sang pria yang tertutup rapat
Bertahun- tahun sudah sejak nanar hatinya terpatri
Ia menatap dan tersenyum muak
--------------------------------------
Riak paras menyelinap dalam- dalam
Saat dia tertawa, dia menangis
Saat dia menangis, dia tersenyum
Dan bila jarak pandangnya menjauh…
Wanita paruh baya itu duduk tenang…
Tak terlihat titik air yang terbendung di kelopak matanya
Dalam batinnya ia berseru tertahan
Buah hatiku kini di depan mata…
Hanya itu yang Ia rasa indah…
Cerita > Puisi Saya 0 comment(s)

