HHHfffff Indonesia...Indonesia...
Semua orang idup susah...anak mudanya banyak yang narkoba...
Mencapai semuanya dengan cara cepat alias instan sepertinya sudah menjadi budaya...
Buat semua para maling yang idupnya kepepet di tengah maraknya kemiskinan indonesia, mudah-mudahan ibu, istri, anak ato suami kalian bisa makan deh...
Rejeki mah ga kemana kalo emang nyarinya bener bung...*sigh*
Tarik Nafas Jeng...
Pada Akhirnya
Beberapa waktu lalu,
Saya berteduh...
Ditemani beberapa kawan setia dan secangkir kopi seringkali saya menerawang...
Tatap mata saya menembus asap putih dari batang rokok kesekian...
Sempat...
Iya...Sempat...
Penat rasanya untuk berpikir bahwa suatu saat harus melepaskan semua yang saya miliki atas nama sendiri...
Takut rasanya untuk membayangkan sesuatu akan terjadi dan tidak akan ada penyelamat di sekeliling saya... pikir saya mereka sejenis dan mereka sama lemahnya seperti saya...
Pria ?... ahh, yang menonjol dari mereka hanya alat kelaminnya, nyalinya belum tentu...
kalau bukan bajingan, palingan juga homo...
Berapa sih pria yang berani mendoakan anak laki-lakinya supaya tumbuh menjadi orang yang sama seperti dia? ...
hhhfff
Iya...sulit...
Sulit rasanya untuk menutup lubang nafas arogansi...
Ada kalanya pula...
Iya...ada kalanya...
Saya sudah terlalu muak untuk memperhatikan sesuatu yang harusnya kekal namun ternyata tidak...
Sampai pada saatnya...
Ditengah kerumunan massa dan ilalang, dia berdiri...
Bingung rasanya untuk harus mempercayai yang terlihat...
Ragu rasanya untuk harus memberi hati saya & mempercayainya pada orang lain...
Gamang rasanya untuk menetap...
--------
Sampai akhirnya..., harus diakui...
Pada suatu titik..., saya merasa inilah saatnya...
Bukan karena saya tidak lagi menginginkan hidup muda yang berwarna dan tidak membosankan
Bukan karena saya ingin lari dari semua yang pernah dan sedang terjadi...
dan sebisa mungkin mencari langkah aman untuk bisa bertahan bersama dia...
Saya hanya butuh sekaligus ingin menjadi teman...
Iya...
Teman yang bisa berjalan beriringan...
Teman yang mau menyadari kesalahan satu sama lain lalu belajar dan tumbuh bersama,
Teman untuk bermimpi bersama,
Teman yang membangun rumah pohon terindah & menjadikannya tempat idaman bersama,
Teman yang bisa menjadi fallback position sekaligus memberitahu dirinya bahwa ia pun telah menjadi tempat yang sama...
Ahhh...
Rasanya sudah saatnya saya menelan dan melumat ego yang pernah singgah untuk waktu yang lama di tempat fana ini...
Mungkin saya sudah seharusnya merasakan ini...
Merasakan keindahannya...
Merasakan kenyamanannya...
Merasakan & menghargai ketulusan ini...
tanpa harus bertanya-tanya lagi...apakah dia seseorang yang tepat bagi saya?...atau apakah saya sudah menjadi orang yang tepat bagi dia?
All i believe is that finally i stop trippin' on my youth and give my love to him...
And this is when mine goes to an end...
Cerita > Pasanganku 3 comment(s)
The Lost Rhythm
Sebuah lembaga/institusi/ organisasi sudah selayaknya mempunyai visi yang jelas. Sebuah institusi selayaknya membangun sinergi yang positif dan tidak takut untuk memulai sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya.
Saya yakin pasti ga bakal ada yang komplain dengan pernyataan tersebut, kecuali mungkin satu orang yang selalu mematahkan semangat saya dengan kalimat " Kita ga bisa gitu jeng!, kita kan bukan 'The Professional' dan lagi biaya untuk itu tidak sedikit, kamu harus pikirin ke situ loh jeng !, bla bla...., ...., ...."
Sebenarnya saya dan rekan kerja saya dulu sangat semangat dan yakin suatu saat tempat ini akan menjadi lebih besar, besar dan besar. Kita juga suka berangan-angan kalau suatu saat nanti, sang penentu keputusan akan berani memberikan award terhadap anak-anak yang berpotensi berupa beasiswa di luar negeri...(kita tertawa saja saat membayangkan itu, tentunya sambil geleng-geleng kepala).
Lucu memang, setelah beberapa kebanggaan sudah didapatkan, tak pernah sekalipun sang penentu keputusan memikirkan untuk memberi penghargaan lebih untuk anak-anak ini...
Sekarang, tersebutlah dua nama, yang konon adalah anak-anak terbaik di tempat ini (salah satunya adalah anak yang beberapa kali membuat bangga kami semua di tempat ini) yang akan mengembangkan skillnya di negeri paman sam...bukan kepalang saya dan rekan kerja sangat optimis dan mendukung kemajuan mereka, karena pada akhirnya mereka pun MAU mengecap ilmu di luar tempat ini...
Tentu saja (sesuatu yang sangat disayangkan) inisiatif dua anak ini bukan datang dari beliau...
Bahkan yang saya dengar urusan administrasi, akomodasi dll diurus semata-mata oleh orangtua sang anak...
Sementara itu, di minimnya kontribusi beliau, dengan mudahnya beliau bisa bilang
" Bagus deh, lumayan ...pelan pelan bisa memperkenalkan 'tempat ini' secara internasional"
Kenapa selalu cari benefit, tapi ga pernah mau menguntungkan orang lain sih?
bikin orang mengerenyitkan dahi saja...
Cost does matter, itu yang selalu menjadi alasan sang penentu keputusan...indeed, cost does matter...tapi saya ragu itu yang menjadi titik awal terjadinya hal ini...saya lebih memilih untuk melihat kembali dua kalimat teratas dan mempercayai bahwasanya visi saya serta rekan kerja seperti beradu arah dengan visi beliau dan pada akhirnya (mau ga mau harus diakui) berpengaruh terhadap ritme kerja.
Saya yakin pasti ga bakal ada yang komplain dengan pernyataan tersebut, kecuali mungkin satu orang yang selalu mematahkan semangat saya dengan kalimat " Kita ga bisa gitu jeng!, kita kan bukan 'The Professional' dan lagi biaya untuk itu tidak sedikit, kamu harus pikirin ke situ loh jeng !, bla bla...., ...., ...."
Sebenarnya saya dan rekan kerja saya dulu sangat semangat dan yakin suatu saat tempat ini akan menjadi lebih besar, besar dan besar. Kita juga suka berangan-angan kalau suatu saat nanti, sang penentu keputusan akan berani memberikan award terhadap anak-anak yang berpotensi berupa beasiswa di luar negeri...(kita tertawa saja saat membayangkan itu, tentunya sambil geleng-geleng kepala).
Lucu memang, setelah beberapa kebanggaan sudah didapatkan, tak pernah sekalipun sang penentu keputusan memikirkan untuk memberi penghargaan lebih untuk anak-anak ini...
Sekarang, tersebutlah dua nama, yang konon adalah anak-anak terbaik di tempat ini (salah satunya adalah anak yang beberapa kali membuat bangga kami semua di tempat ini) yang akan mengembangkan skillnya di negeri paman sam...bukan kepalang saya dan rekan kerja sangat optimis dan mendukung kemajuan mereka, karena pada akhirnya mereka pun MAU mengecap ilmu di luar tempat ini...
Tentu saja (sesuatu yang sangat disayangkan) inisiatif dua anak ini bukan datang dari beliau...
Bahkan yang saya dengar urusan administrasi, akomodasi dll diurus semata-mata oleh orangtua sang anak...
Sementara itu, di minimnya kontribusi beliau, dengan mudahnya beliau bisa bilang
" Bagus deh, lumayan ...pelan pelan bisa memperkenalkan 'tempat ini' secara internasional"
Kenapa selalu cari benefit, tapi ga pernah mau menguntungkan orang lain sih?
bikin orang mengerenyitkan dahi saja...
Cost does matter, itu yang selalu menjadi alasan sang penentu keputusan...indeed, cost does matter...tapi saya ragu itu yang menjadi titik awal terjadinya hal ini...saya lebih memilih untuk melihat kembali dua kalimat teratas dan mempercayai bahwasanya visi saya serta rekan kerja seperti beradu arah dengan visi beliau dan pada akhirnya (mau ga mau harus diakui) berpengaruh terhadap ritme kerja.
Langganan:
Postingan (Atom)

