Sebuah lembaga/institusi/ organisasi sudah selayaknya mempunyai visi yang jelas. Sebuah institusi selayaknya membangun sinergi yang positif dan tidak takut untuk memulai sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya.
Saya yakin pasti ga bakal ada yang komplain dengan pernyataan tersebut, kecuali mungkin satu orang yang selalu mematahkan semangat saya dengan kalimat " Kita ga bisa gitu jeng!, kita kan bukan 'The Professional' dan lagi biaya untuk itu tidak sedikit, kamu harus pikirin ke situ loh jeng !, bla bla...., ...., ...."
Sebenarnya saya dan rekan kerja saya dulu sangat semangat dan yakin suatu saat tempat ini akan menjadi lebih besar, besar dan besar. Kita juga suka berangan-angan kalau suatu saat nanti, sang penentu keputusan akan berani memberikan award terhadap anak-anak yang berpotensi berupa beasiswa di luar negeri...(kita tertawa saja saat membayangkan itu, tentunya sambil geleng-geleng kepala).
Lucu memang, setelah beberapa kebanggaan sudah didapatkan, tak pernah sekalipun sang penentu keputusan memikirkan untuk memberi penghargaan lebih untuk anak-anak ini...
Sekarang, tersebutlah dua nama, yang konon adalah anak-anak terbaik di tempat ini (salah satunya adalah anak yang beberapa kali membuat bangga kami semua di tempat ini) yang akan mengembangkan skillnya di negeri paman sam...bukan kepalang saya dan rekan kerja sangat optimis dan mendukung kemajuan mereka, karena pada akhirnya mereka pun MAU mengecap ilmu di luar tempat ini...
Tentu saja (sesuatu yang sangat disayangkan) inisiatif dua anak ini bukan datang dari beliau...
Bahkan yang saya dengar urusan administrasi, akomodasi dll diurus semata-mata oleh orangtua sang anak...
Sementara itu, di minimnya kontribusi beliau, dengan mudahnya beliau bisa bilang
" Bagus deh, lumayan ...pelan pelan bisa memperkenalkan 'tempat ini' secara internasional"
Kenapa selalu cari benefit, tapi ga pernah mau menguntungkan orang lain sih?
bikin orang mengerenyitkan dahi saja...
Cost does matter, itu yang selalu menjadi alasan sang penentu keputusan...indeed, cost does matter...tapi saya ragu itu yang menjadi titik awal terjadinya hal ini...saya lebih memilih untuk melihat kembali dua kalimat teratas dan mempercayai bahwasanya visi saya serta rekan kerja seperti beradu arah dengan visi beliau dan pada akhirnya (mau ga mau harus diakui) berpengaruh terhadap ritme kerja.
Saya yakin pasti ga bakal ada yang komplain dengan pernyataan tersebut, kecuali mungkin satu orang yang selalu mematahkan semangat saya dengan kalimat " Kita ga bisa gitu jeng!, kita kan bukan 'The Professional' dan lagi biaya untuk itu tidak sedikit, kamu harus pikirin ke situ loh jeng !, bla bla...., ...., ...."
Sebenarnya saya dan rekan kerja saya dulu sangat semangat dan yakin suatu saat tempat ini akan menjadi lebih besar, besar dan besar. Kita juga suka berangan-angan kalau suatu saat nanti, sang penentu keputusan akan berani memberikan award terhadap anak-anak yang berpotensi berupa beasiswa di luar negeri...(kita tertawa saja saat membayangkan itu, tentunya sambil geleng-geleng kepala).
Lucu memang, setelah beberapa kebanggaan sudah didapatkan, tak pernah sekalipun sang penentu keputusan memikirkan untuk memberi penghargaan lebih untuk anak-anak ini...
Sekarang, tersebutlah dua nama, yang konon adalah anak-anak terbaik di tempat ini (salah satunya adalah anak yang beberapa kali membuat bangga kami semua di tempat ini) yang akan mengembangkan skillnya di negeri paman sam...bukan kepalang saya dan rekan kerja sangat optimis dan mendukung kemajuan mereka, karena pada akhirnya mereka pun MAU mengecap ilmu di luar tempat ini...
Tentu saja (sesuatu yang sangat disayangkan) inisiatif dua anak ini bukan datang dari beliau...
Bahkan yang saya dengar urusan administrasi, akomodasi dll diurus semata-mata oleh orangtua sang anak...
Sementara itu, di minimnya kontribusi beliau, dengan mudahnya beliau bisa bilang
" Bagus deh, lumayan ...pelan pelan bisa memperkenalkan 'tempat ini' secara internasional"
Kenapa selalu cari benefit, tapi ga pernah mau menguntungkan orang lain sih?
bikin orang mengerenyitkan dahi saja...
Cost does matter, itu yang selalu menjadi alasan sang penentu keputusan...indeed, cost does matter...tapi saya ragu itu yang menjadi titik awal terjadinya hal ini...saya lebih memilih untuk melihat kembali dua kalimat teratas dan mempercayai bahwasanya visi saya serta rekan kerja seperti beradu arah dengan visi beliau dan pada akhirnya (mau ga mau harus diakui) berpengaruh terhadap ritme kerja.


2 komentar:
Bener Jeng.. kyknya kebykan 'beliau2' itu tdk terlalu peduli karena mreka sendiri 'tdk menaruh hati' kpd skill yg ditawarkan oleh bisnis mreka, cm mgkn hanya krn masalah prospek yg cerah utk bergerak di bisnis itu.. beda sama 'kita2' yg bnr2 'menaruh hati' n 'menjiwai' bidang yg ditawarkan bisnis itu.. Alangkah indahnya kalo kita bs 'punya' bisnis sendiri dimana kita bnr2 'menaruh hati' kepadanya, bkn hanya duitnya saja, hehe..
*sotoy ya diriku? haha*
Btw, apa kabar Jeng? smoga kabar baik slalu yaa.. ^^
@ pythia:...ga sotoy kok bu...=)
ayoooo semangattt kita berburu the beauty of our own dream =D
Posting Komentar