Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Cari Cara "Coro"

Coro itu bahasa jawanya kecoa...kecoa itu kerjannya nyelap-nyelip sana sini untuk nyari jalan. Badannya memang kecil, tapi kalo kata discovery channel kecoa itu binatang yang diperkirakan akan paling kuat bertahan dalam segala macam kondisi, bahkan pada saat ada ledakan bom nuklir... (ck ck ck...kakak saya dan teman saya santi [bukan shanty] pasti makin benci saja sama binatang ini...).

Pernah ga ngerasa kalo di kehidupan pekerjaan semua orang bisa jadi coro?
Ga jarang orang melakukan hal apapun untuk mempertahankan pekerjaannya... menjijikan?
Tapi mau tidak mau, suka ga suka, ga mungkin salah satu dari kita ga pernah melakukan tehnik si coro ini, alias nyelap nyelip untuk mencapai tujuan. Sebenernya memang ga ada yang salah untuk mencapai tujuan, tapi terkadang kalau sistemnya udah bobrok, cara coro dan menjadi coro pasti menjadi trend di komunitas tersebut. akhirnya semuanya jadi bau coro, itu yang menjijikan.

Sama halnya dikehidupan percintaan...
coba kita lihat orang-orang yang menjalani segalanya tanpa mengerti perasaannya sendiri....ga jarang kan orang-orang berkelit untuk mampir ke rumah pasangannya karena dia sendiri ga tau mau dibawa kemana hubungan mereka....
Apalagi soal selingkuh. Pasti kerjaannya nyelap nyelip cari cara untuk menyembunyikan kisah perselingkuhannya dari pasangannya. padahal bau coro kan dahsyat, jadi pasti kecium juga. Kisah bertahannya sang "Coro" ga hanya sampai situ, begitu ketahuan, pasti berkelit lagi cari cara untuk bisa menyelamatkan hubungan dengan beralasan ini itu. huh...mulutnya bau coro!

Sepertinya harus saya akui akhir-akhir ini saya sering jadi coro. Di tempat kerjaan, saya mesti ngejalanin cara coro alias nyelap nyelip sana sini untuk menyelamatkan image yang sudah terlanjur "dikencingin" coro-coro lainnya. Waktu saya belum ngejalanin teknik ini, saya selalu dianggap salah. Seolah-olah semua cara fair saya(yang masih memikirkan dan mempedulikan "masa depan" tempat kerjaan ini) justru dinilai frontal dan mencemaskan. Dan yang terlebih parah jalan saya langsung dihalangi. Nah ini dia yang memicu saya akhirnya harus memutuskan untuk nyelap nyelip macam coro ...daripada saya harus menyerah pada keadaan dan mimpi saya diinjak-injak, saya pun harus menjalani cara coro. Lucunya, Sekarang, begitu saya melakukan rencana underground untuk menyelamatkan diri saya sendiri (yang ujung-ujungnya tidak akan memberikan profit apa-apa bagi tempat kerjaan saya ) saya malah dibilang dewasa dan tau bersikap (geleng-geleng kepala) ...sepertinya Honesty vs cara coro lebih dihargai cara coro... ga heran cara coro udah jadi trend di kehidupan pekerjaan. *sigh*

Teknik coro dalam berhubungan lawan jenis lebih lucu lagi...
Baru saja saya berbincang-bincang dengan teman lama dan mantan pacar di conference YM (kebetulan kami memang berteman sampai sekarang)
Berawal dari bercandaan akhirnya saya dan mantan pacar terperangkap dalam memori masalalu. Mantan saya rupanya ga pernah tau kalau alasan saya minta putus dulu karena saya menganggap dia selingkuh dan cemburu sama cewek yang dekat dengan dia waktu itu. Dia bersikeras bahwa dia ga selingkuh dan kecewa karena saya ga pernah mengungkapkan kecemburuan saya. Yang dia tau, saya minta putus dulu karena saya ga tahan jarak jauh. Lucunya lagi, sebelum chat conference itu dia pun ga pernah mengakui kalau dia juga cemburu sama lelaki yang akhirnya dekat sama saya setelah kami putus. Kalau boleh dibilang , mungkin dulu cara coro yang kami lakukan adalah menyembunyikan rasa cemburu kami untuk meyelamatkan ego masing-masing... maklum...saya kan dulu masih sangad muda (walau dia ga muda-muda amad).
hahaha...mungkin kalo dulu kami ga begitu, dari tahun kapan udah nikah kali ya...hehehe ada -ada aja...(geleng-geleng kepala).
Dan teman kami pun hanya bisa memberikan celetukan-celetukan yang tentunya jarang digubris oleh kami...hahaha...kasian dia...ga waktu masih pacaran, ga udah putus, dia masih harus selalu ada di "tengah-tengah" kami...hihihi

hmmm sudah cukup jadi pelacur saya nih (pelan-pelan curhat maksudnya)...*muka malu*
Tapi anyway, mengingat hubungan saya dengan pria terakhir saya yang ga pernah pakai cara coro (dari sisi saya) kok tetep berantakan ya ujung2nya? *sigh*

Mungkin emang kalau di hubungan lawan jenis cara coro ga disarankan ya...tapi kalau soal pekerjaan??...hmmmm....

5 komentar:

Anonim mengatakan...

Hi Jeng! Lama gak baca kabarmu ^^
Wah, kynya paling enak cara gajah deh, paling gede, mau gerak kalo susah tinggal bubarkan semua yg menghalangi, wakakak kejamnya dunia.. Ato cara burung, klo suka nemplok, enggak suka tinggal pergi aja terbang jauh2, hihi.
Oh sayangnya bikin jadi gajah nya yg susah ya, smuanya berawal dr yg kecil2 seperti.. coro? trs klo mau jd burung, susah dapetin sayap.. ehm, susah emang.. :D

Anonim mengatakan...

waduh...si coro lagi tenar nih...

Sedang sibuk balet?

Anonim mengatakan...

haha, kalau dulu di kantor, suka bilangnya cara kodok, sikut kanan kiri, terus loncat dey. ya that's working life ya!

Anonim mengatakan...

ooo...sekarang namanya cara coro yah? kalo ga salah dulu pernah dengernya yang versi tikus got deh ~_~, kalo ditaro' di tempat pengetesan nuklir kira² lebih kuad yang mana yah? *mulai mikir bego*

aneh yah, makin bersikap kaya'anak kecil gitu malah dibilang makin dewasa, ini faktor pendidikan rendah ato kualitas pendidikannya yang rendah banged....?

di dunia kerja dikasi training cara coro juga?

~_~

James Higham mengatakan...

Is life wonderful though?